Jumat, 21 No
vember 2025, Bina Karsa Foundation melaksanakan kunjungan ke Kampung Adat Cireundeu, salah satu komunitas adat yang konsisten menjaga tradisi dan kearifan lokal di wilayah Kota Cimahi, Jawa Barat. Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda riset lapangan dan pemetaan sosial yang dilakukan oleh tim Researcher dan Community Development Bina Karsa Foundation, dengan tujuan menggali potensi kolaborasi, memahami dinamika masyarakat adat, serta mengidentifikasi peluang program pemberdayaan yang dapat dikembangkan secara inklusif dan berkelanjutan.
Kampung Adat Cireundeu merupakan komunitas yang unik dan memiliki kekhasan dalam aspek budaya, pangan, pengelolaan ruang, serta nilai-nilai filosofis yang diwariskan secara turun-temurun. Kunjungan ini sekaligus menjadi momentum penting bagi Bina Karsa Foundation untuk memperluas perspektif mengenai bagaimana komunitas adat bertahan dan beradaptasi di tengah arus modernisasi yang semakin cepat.
Mengamati Sistem Ketahanan Pangan Non-Beras sebagai Identitas Komunitas
Salah satu poin utama yang diamati oleh tim adalah sistem ketahanan pangan masyarakat adat yang tidak bergantung pada beras. Sejak lama, masyarakat Cireundeu mengonsumsi pangan utama berbahan dasar singkong yang mereka sebut rasi. Singkong tidak hanya menjadi makanan pokok, tetapi juga simbol kemandirian dan keteguhan masyarakat adat dalam menjaga identitas leluhur.

Melalui proses produksi yang masih dilakukan secara tradisional, masyarakat mengolah singkong menjadi rasi, keripik, dan berbagai produk turunannya. Hal ini menunjukkan bahwa pangan lokal dapat dikelola secara mandiri dan bernilai ekonomis jika dikembangkan melalui inovasi dan penguatan kapasitas. Bina Karsa Foundation mencatat bahwa keberhasilan Kampung Adat Cireundeu dalam mempertahankan sistem pangan lokal dapat menjadi model inspiratif bagi program ketahanan pangan berbasis kearifan lokal di berbagai wilayah.
Dialog dan Diskusi dengan Tokoh Adat
[
[Pelaksanaan Social Mapping Yayasan]
Dialog bersama tokoh adat Kampung Adat Cireundeu memberikan gambaran menyeluruh tentang sejarah, nilai-nilai sosial, ekonomi, pendidikan, hingga pengelolaan lingkungan yang mereka jalankan. Para sesepuh menjelaskan bahwa kampung ini tumbuh dari komunitas Sunda awal abad ke-20 yang mempertahankan ajaran Sunda Wiwitan dan hidup mandiri selaras dengan alam, termasuk melalui tradisi mengonsumsi rasi sebagai pangan pokok. Nilai adat seperti kesederhanaan, tata krama, gotong royong (sauyunan), serta kewajiban menjaga kelestarian alam menjadi dasar kehidupan sosial mereka hingga kini.
Selama diskusi dijelaskan bahwa masyarakat berpegang pada aturan adat yang tegas, terutama terkait pelestarian lingkungan, seperti larangan merusak hutan, menjaga sumber air, serta pemanfaatan lahan secara bijak. Hal ini menjadikan kampung tetap bersih, hijau, dan tertata. Di sisi lain, perekonomian warga berjalan sederhana melalui pertanian, pengolahan singkong, dan kerajinan tradisional, namun tetap terbuka pada kolaborasi luar selama tidak bertentangan dengan nilai adat.
Kang Yana selaku tokoh adat menjelaskan bagaimana nilai budaya diwariskan kepada generasi muda melalui pembelajaran dalam keluarga, keterlibatan dalam upacara adat, serta pendidikan berbasis kearifan lokal. Meski modernisasi menjadi tantangan, masyarakat tetap selektif menerima perubahan agar tradisi tidak hilang. Dalam hal kunjungan dan kerja sama, masyarakat Cireundeu bersikap terbuka terhadap lembaga, pelajar, maupun organisasi, selama kegiatan dilakukan dengan penuh hormat dan sesuai prinsip adat. Mereka menekankan pentingnya pendekatan partisipatif, di mana program harus dirancang bersama warga dan berlandaskan nilai Sunda Wiwitan. Kebutuhan utama yang mereka identifikasi mencakup pengembangan ekonomi lokal, pelestarian lingkungan, pendidikan adat, serta peningkatan kesehatan masyarakat, sehingga kolaborasi dapat benar-benar meningkatkan kesejahteraan tanpa mengurangi identitas budaya dan kemandirian komunitas.
Penutup
Melalui kunjungan ke Kampung Adat Cireundeu, Yayasan Bina Karsa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai nilai-nilai kearifan lokal, pola kehidupan masyarakat adat, serta praktik pelestarian budaya dan lingkungan yang dijalankan secara turun-temurun, sehingga wawasan tersebut diharapkan dapat menjadi landasan bagi pengembangan inisiatif kolaboratif yang tidak hanya mendukung upaya pemberdayaan masyarakat dan penguatan identitas budaya, tetapi juga mendorong terciptanya program-program edukatif dan partisipatif yang berkesinambungan, menjadikan kegiatan ini bukan sekadar ajang pembelajaran, melainkan pula langkah awal menuju sinergi nyata dalam menjaga keberlanjutan budaya, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat Kampung Adat Cireundeu.

