Dalam upaya pembangunan berkelanjutan, memahami kondisi sosial masyarakat merupakan langkah awal yang sangat penting. Pembangunan tidak lagi hanya diartikan sebagai peningkatan ekonomi atau pembangunan infrastruktur, tetapi sebagai proses transformasi sosial yang menempatkan manusia sebagai pusat dari setiap aktivitas. Tujuannya bukan sekadar menciptakan pertumbuhan, tetapi memastikan masyarakat memiliki kapasitas untuk bertahan, beradaptasi, dan berkembang secara berkelanjutan.
Sayangnya, banyak program pembangunan masih berangkat dari paradigma yang salah melihat masyarakat dari sisi kekurangan (what’s wrong) dan bukan dari kekuatan serta potensi (what’s strong). Kritik terhadap paradigma ini disampaikan oleh Cormac Russell melalui bukunya “Rekindling Democracy: A Professional’s Guide to Working in Citizen Space”. Ia menekankan bahwa perubahan sosial yang sejati dimulai dari pengakuan terhadap aset, kemampuan, dan kekuatan komunitas. Masyarakat bukanlah objek yang perlu “diperbaiki”, melainkan subjek yang memiliki daya untuk tumbuh
Apa Itu Sustainable Livelihood Approach (SLA)
Sustainable Livelihood Approach (SLA) adalah suatu kerangka kerja yang menempatkan aset atau modal masyarakat sebagai dasar utama dalam memahami kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan suatu komunitas. Pendekatan ini membantu melihat bagaimana masyarakat memanfaatkan aset yang dimiliki untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidup mereka secara berkelanjutan.
SLA sering digunakan dalam kegiatan pemetaan sosial (social mapping), program CSR, hingga perencanaan pembangunan desa karena mampu memberikan gambaran menyeluruh mengenai kekuatan, tantangan, serta strategi bertahan hidup masyarakat.
Tujuan Utama Sustainable Livelihood Approach
Pendekatan SLA bertujuan untuk:
Mengidentifikasi dan memetakan aset yang dimiliki masyarakat.
Memahami risiko, kerentanan, dan tantangan yang mereka hadapi.
Melihat strategi livelihood atau cara masyarakat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari
Membantu merancang intervensi atau program pemberdayaan yang tepat sasaran.
Mendorong pembangunan yang inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan.
Dalam kerangka SLA, aset masyarakat dikategorikan menjadi lima modal:
1. Human Capital (Modal Manusia)
Meliputi keterampilan, pengetahuan, kesehatan, kapasitas kerja, dan pendidikan masyarakat.
2. Social Capital (Modal Sosial)
Mencakup jaringan sosial, hubungan antarwarga, kepercayaan, partisipasi dalam kelompok, serta norma sosial.
3. Natural Capital (Modal Alam)
Sumber daya alam seperti tanah, air, hutan, udara, iklim, hingga biodiversitas yang mendukung kehidupan masyarakat.
4. Physical Capital (Modal Fisik)
Sarana dan prasarana seperti jalan, sekolah, kesehatan, listrik, air bersih, rumah, transportasi, dan infrastruktur lain.
5. Financial Capital (Modal Finansial)
Pendapatan, tabungan, akses perbankan, kredit, bantuan, hingga aset ekonomi produktif.
Sustainable Livelihood Approach merupakan kerangka yang efektif untuk memahami aset, tantangan, dan strategi kehidupan masyarakat secara komprehensif. Dalam pemetaan sosial, SLA sangat membantu menghasilkan analisis yang lebih tajam sekaligus membantu merancang program pembangunan atau CSR yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan
