Cianjur masih menjadi salah satu daerah dengan jumlah Pekerja Migran Indonesia yang cukup tinggi, khususnya perempuan yang bekerja di negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi dan wilayah sekitarnya. Namun, setelah kembali ke daerah asal, banyak perempuan purna PMI menghadapi tantangan dalam proses reintegrasi sosial dan ekonomi, mulai dari keterbatasan keterampilan usaha, akses permodalan, hingga minimnya pendampingan usaha berkelanjutan.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pemberdayaan purna PMI, kegiatan “Program Pendampingan dan Penguatan Kapasitas Perempuan Purna Pekerja Migran Indonesia” dilaksanakan pada Kamis, 7 Mei 2026 di Kampung Pasir Angin, Desa Nanggala Mekar, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong penguatan kapasitas perempuan purna PMI agar lebih mandiri secara ekonomi dan mampu mengembangkan usaha produktif di daerah asalnya.
Program ini dilaksanakan berdasarkan hasil Focus Group Discussion (FGD) bersama perempuan purna PMI yang menunjukkan adanya kebutuhan terhadap pendampingan usaha, pelatihan keterampilan, serta akses terhadap program pemberdayaan UMKM yang berkelanjutan. Sebanyak 12 peserta purna PMI mengikuti kegiatan dengan antusias dan aktif terlibat dalam setiap sesi yang dilaksanakan.
Kegiatan diawali dengan registrasi dan display produk usaha milik peserta, dilanjutkan dengan sesi “Cerita Kepulangan” yang menjadi ruang berbagi pengalaman setelah kembali bekerja dari luar negeri. Peserta juga mengikuti sesi “Cerita Usaha Kita” untuk mempresentasikan produk usaha rumahan yang dimiliki sekaligus berbagi tantangan dalam mengembangkan usaha.
Dalam kegiatan ini, narasumber dari Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Cianjur, yaitu Bapak Bobby, S.E., menyampaikan materi mengenai program dan layanan pemberdayaan UMKM, akses pelatihan dan permodalan usaha, pengelolaan usaha dan keuangan sederhana, strategi pemasaran produk, hingga pentingnya penguatan usaha berbasis kelompok dan jejaring usaha.
Peserta menunjukkan antusiasme tinggi terutama pada sesi diskusi interaktif dan tanya jawab. Banyak peserta menyampaikan kondisi usaha yang masih berjalan secara sederhana, seperti berjualan di depan rumah, menitipkan produk di warung, atau menjual secara keliling. Selain itu, sebagian peserta juga mengaku masih belum percaya diri dalam mengembangkan usaha dan belum terbiasa melakukan pengelolaan keuangan usaha secara terpisah dari kebutuhan rumah tangga.
Meski demikian, kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan dan motivasi peserta. Para peserta mulai memahami peluang usaha produktif, mengenal akses program pemerintah yang dapat dimanfaatkan, serta memperoleh dorongan untuk mengembangkan usaha secara mandiri dan berkelanjutan. Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat komunikasi dan semangat kebersamaan antar perempuan purna PMI melalui penguatan kelompok usaha.
Melalui program pendampingan ini, diharapkan perempuan purna PMI tidak hanya memiliki kemampuan ekonomi yang lebih baik, tetapi juga menjadi lebih percaya diri dalam membangun masa depan setelah kembali ke daerah asal. Ke depan, diperlukan pendampingan lanjutan, akses pelatihan keterampilan yang berkelanjutan, serta dukungan pemerintah dan berbagai pihak agar pemberdayaan perempuan purna PMI dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan.
Kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam mendukung perempuan purna PMI untuk terus bertumbuh, mandiri, dan berdaya di tengah masyarakat.
